• Refleks bertahan: Kucing kadang-kadang bisa memiliki refleks bertahan yang kuat, terutama jika mereka merasa terkejut atau terancam. Ini bisa menyebabkan mereka menggigit sebagai respons terhadap sesuatu yang mengejutkan.
• Proses pembersihan: Kadang-kadang kucing menggigit pemilik mereka saat menjilat atau membersihkan diri. Ini bisa menjadi refleks alami.
• Permainan: Kucing sering bermain dengan tangan atau jari pemilik mereka. Mereka mungkin menganggap gigitan lembut sebagai bagian dari permainan.
Meskipun gigitan kucing terkadang bisa menjadi ekspresi kasih sayang, penting untuk memahami batas dan melatih kucing agar tidak menggigit terlalu keras. Jika perilaku menggigit menjadi masalah atau terlalu agresif, berkonsultasilah dengan dokter hewan untuk mendapatkan saran yang tepat.
Dilansir dari Aladokter.con, dr Nadia Nurotul Fuadah mengatakan, gigitan kucing, meski tidak selalu berbahaya, sebaiknya tidak juga dianggap remeh. Sebab, luka bekas gigitan kucing rentan menjadi tempat berkembangnya beragam mikroorganisme penyebab infeksi, termasuk penyakit tetanus, rabies, kudis, cat scratch disease, dan sebagainya. Beragam jenis infeksi ini tidak selalu menunjukkan gejala khas awalnya. Namun, jika terlambat ditangani, beberapa infeksi tersebut bisa sangat mematikan.
