Laode Munianse juga mengungkapkan bahwa ritual tersebut jangan disalahartikan sebagai ritual mistik.
"Festival Batu Poaro bukanlah ritual menyembah batu atau mengagungkan benda mati, tetapi ritual tersebut memiliki nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran untuk menata masa depan," katanya.
Untuk diketahui, Festival Batu Poaro atau dikenal dengan Tuturangiana Batu Poaro dalam bahasa Wolio dimaknai sebagai ritual ‘penyucian adat’ terhadap situs budaya Batu Poaro yang memiliki nilai historis dan kultural bagi masyarakat di wilayah eks Kesultanan Buton dan hal tersebut adalah salah satu wahana untuk mengingat kembali Syekh Abdul Wahid yang merupakan sosok penyiar agama Islam di Pulau Buton.(C)
Reporter: Iradat Kurniawan
Editor: Haerani Hambali
