“Kami ingin menjual dengan mekanisme yang benar, jangan sampai dianggap sebagai kewajiban bagi siswa baru. Padahal harga seragam yang dijahit di sekolah jauh lebih murah dengan kualitas lebih baik dibanding di pasaran,” jelas Kasman.

Baca Juga: Bank Sultra Dapat Dukungan DPR RI dan Wamendagri, Siap jadi Motor Ekonomi Sulawesi Tenggara

Harga seragam yang ditawarkan sekolah sebenarnya relatif terjangkau, sekitar Rp 160 ribu per set, lebih rendah dibandingkan produk konveksi. Namun, karena terhambat pemasaran, biaya produksi yang sudah dikeluarkan belum bisa kembali.

Kasman berharap Pemerintah Kota Kendari maupun pihak terkait bisa membantu mencarikan solusi agar produk seragam hasil karya siswa bisa dipasarkan secara resmi.

“Kalau ada jalur pemasaran yang jelas, seragam ini bisa sekaligus menjadi kebanggaan karena hasil karya anak SMKN 3 Kendari. Selain itu, biaya produksi yang sudah kami keluarkan juga bisa tertutup,” pungkasnya. (C)