Tapi jangan berbangga dulu karena kemenangan PDIP di Pemilu 2019 tidak terlepas dari adanya keutungan besar dari efek ekor jas atau coat-tail effect atas pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden. Karena, PDIP merupakan salah satu partai pengusung sekaligus partai tempat Jokowi bernaung.

Kemampuan Jokowi untuk menjaga relasi dengan elite partai dan dengan massa pemilih memberi kontribusi bagi rendahnya split voters di kalangan pemilih untuk tetap memilih PDIP.

Belajar dari pengalaman 2019, sudah pasti semua partai politik tidak akan mau kecolongan lagi dan sudah mulai menawarkan para figurnya untuk maju sebagai presiden, Partai Gerinda tetap dengan Prabowo Subianto dan Partai Golkar dengan Airlangga Hartarto.

Sementara itu NasDem berencana menggelar konvensi untuk menjaring bakal capres tahun 2022, khususnya nama-nama yang memiliki elektabilitas tinggi.

Konvensi serupa pernah diadakan oleh Golkar pada Pemilu 2004 dan Demokrat pada Pemilu 2014. Tahun ini yaitu 2021, konstelasi politik akan mulai dinamis.