Adapun tingkat keterpilihan Prabowo diposisi ketiga sebesar 11,1 persen, (CNN Indonesia, 04/05/2021). Tentu saja, momentum Anies dapat mengganggu kesempatan terakhir dari Prabowo untuk mencalonkan diri sebagai presiden.  

Popularitas Prabowo sebagai menteri yang memperoleh respons positif dari masyarakat, tentu berdampak terhadap kepercayaan diri Prabowo. Sebab, selama ini Prabowo masih diragukan karena belum pernah menduduki jabatan eksekutif seperti sebagai pembantu presiden.

Ketika momentum Prabowo sedang baik, disertai tanpa adanya petahana, maka kans Prabowo ikut bertarung kembali masih terbuka peluang.  

Sehingga, ketika Prabowo diisukan akan berduet dengan Puan Maharani, terjadinya koalisi kembali antara PDIP-Gerindra seperti dulu antara Megawati-Prabowo Subianto pada Pilpres 2009 lalu, akan semakin memberatkan langkah Prabowo, jika Anies terus melakukan manuver untuk menunjukkan kesiapan maju dalam Pilpres 2024 nanti.

Anies Baswedan yang pernah diusung Prabowo dan Gerindra bersama PKS di Pilkada Gubernur 2017 lalu, tentu lebih berkans besar dibandingkan Prabowo. Alasan belum pernah mengikuti Pilpres dan belum pernah kalah di Pilpres menjadi modal besar didorong untuk menyudutkan Prabowo.