Sebab, mereka harus memiliki posisi tawar yang lebih baik, karena kemunculan Anies Baswedan yang tidak berpartai tetapi diusung oleh partai menunjukkan telah mencoreng muka partai-partai politik dalam segi rekrutmen calon pemimpin.
Baca Juga: Gerak Politik PKS dengan Safari Ramadan
Popularitas Anies yang tinggi, juga menunjukkan saat ini partai-partai secara tidak langsung mengalami kemerosotan dalam popularitas di publik. Ini dibuktikan oleh Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, munculnya dorongan dari masyarakat, maupun kelompok kepentingan, sehingga orang yang tidak berpartai seperti Anies, malah diusung oleh partai dan koalisi partai.
Mengutip tulisan menarik Richard S. Katz dan William Crotty, yang menyatakan, “Di era ketika partai politik lemah, kelompok kepentingan sering mempengaruhi pencalonan, sangat menentukan dalam pemilihan calon favorit, dan membantu mengelola pemerintah dengan memengaruhi penunjukkan pejabat dan proses pengambilan keputusan itu sendiri,” (Handbook Partai Politik, 2015: 9).
Langkah politik Anies yang menunjukkan persiapan diri menuju Pilpres 2024 nanti, bukan saja akan menimbulkan revisi hitungan matematika dalam politik mengusung calon.
