Namun, saat pemateri bersiap memulai praktik, sekelompok orang memasuki lokasi kegiatan. Mereka mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Petani Loeha Raya. Sejumlah orang mendekati bagian depan ruangan dan meminta kegiatan dihentikan. Mikrofon yang dipegang pemateri sempat direbut, sehingga penyampaian materi terputus.
Situasi menjadi gaduh ketika beberapa orang berteriak meminta kegiatan dibubarkan. Para siswa yang sebelumnya fokus belajar mulai terlihat kebingungan. Sebagian menunduk, sementara lainnya saling berpegangan. Manekin dan alat peraga yang telah disiapkan tetap terletak di depan ruangan tanpa sempat digunakan.
Dalam kericuhan itu terdengar teriakan yang ditujukan kepada penyelenggara. “Kau komunis! PKI! Kehadiranmu menganggu masyarakat karena mau melakukan provokasi,” hardik salah seorang perwakilan kelompok tersebut. Pernyataan lain juga disampaikan dengan nada tinggi. “Siapa kepala sekolahnya ini? Adik-adik harus tahu PT Vale merusak tanah orang tuamu. Saya tidak mau bertanggungjawab kalau ada kejadian,” ungkapnya.
Guru dan panitia mencoba menenangkan situasi. Tim PT Vale berupaya menjelaskan bahwa kegiatan bersifat edukatif dan berfokus pada keselamatan pelajar.
Namun, massa tetap meminta acara dihentikan. Demi menghindari risiko, peserta akhirnya diminta berdiri dan meninggalkan ruangan secara tertib.
