Saat ini dengan komunikasi politik yang disampaikan oleh Presiden Jokowi membuat pemerintahan malah tidak berjalan dengan baik dan dinamis, pemerintah malah direpotkan dengan langkah politik beberapa menteri di pemerintahan yang “genit” berpolitik menuju Pilpres tetapi terkesan sembunyi-sembunyi. Disebabkan mereka khawatir tidak akan didukung oleh Presiden Jokowi dan tak mendapatkan dukungan besar dari perahu relawan Jokowi, yang disebut terakhir adalah esensinya.

Dari situasi ini malah pemerintahan direpotkan dengan kerja yang tak serius dari para menteri-menterinya, mereka berpolitik menuju pilpres, tetapi sekaligus berpolitik pencitraan kepada Presiden. Hal yang sama terjadi dengan sosok Presiden Jokowi saat ini, yang harus direpotkan oleh mempersiapkan langkah politik menuju Pilpres. Padahal konsentrasi politik di pemerintahan, semestinya menjelang akhir pemerintahan lebih berkonsentrasi mengurusi masyarakat.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, Istana diprediksi akan riuh-rendah dalam politik pencapresan dan siapa yang akan didukung oleh Presiden Jokowi sebagai capres, sehingga memengaruhi soliditas para pembantu presiden dan pemerintah juga cenderung akan rapuh dalam mengelola koalisi ke depan. Malah yang dikhawatirkan adalah terjadinya de ja vu, PDI Perjuangan kembali gagal memimpin pemerintahan untuk periode berikutnya, karena terjadi konflik di dalam pemerintahan, seperti di pemerintahan Megawati Soekarnoputri saat itu, mungkin saja terulang kembali. (*)