Figur-figur Ketua Umum trendnya tak lagi laku dijual kepada publik dengan bukti elektabilitas dirinya yang rendah, kecuali Prabowo Subianto, tetapi figur-figur ini masih bersikukuh maju mengusung dirinya sendiri. Menariknya, figur-figur ini yang merasa elektabilitas dirinya rendah malah dengan percaya dirinya memasangkan dirinya dengan calon-calon yang berada di tiga besar.

Upaya mempasang-pasangkan calon presiden/wakil presiden saat ini menjadi langkah yang dianggap baik dalam mendongkrak elektabilitas partai-partai. Namun yang sangat disayangkan, upaya mempasang-pasangkan paket calon presiden/wakil presiden cenderung monoton. Patut diduga, andai nanti Mahkamah Konstitusi (MK) menghapuskan presidential threshold, jangan-jangan partai-partai juga enggan berbicara serius mengenai paket pasangan calon presiden/wakil presiden.

Mempasangkan calon presiden/wakil presiden alternatif bagi elite-elite partai saat ini serasa sia-sia, karena target mereka adalah menaikkan elektabilitas secara instan, sehingga akhirnya mereka berlindung kepada sosok yang namanya masuk tiga besar. Meski malah memicu “lelucon politik” dari langkah politik itu, seperti mempasangkan Prabowo Subianto-Muhaimin Iskandar, sebab Prabowo saja belum meyakini dirinya untuk maju sebagai calon presiden.

Pola Monoton Paket Pasangan

Semestinya berbagai hasil survei dapat menjadi pelajaran untuk melakukan pengkajian dan analisis mengenai peluang dirinya sebagai elite partai untuk maju dalam Pilpres 2024 mendatang. Tetapi masih kental dalam benak pikir dan keegoisan hati, beberapa petinggi partai bahwa dirinya berpeluang untuk maju sebagai calon presiden.