Akhirnya, yang terjadi adalah wajah-wajah lama yang tak laku dipasang-pasangkan dengan ketiga wajah yang berada di posisi tiga besar sebagai calon presiden.
Pelajaran berharga yang dilakukan oleh Partai Nasdem pada 2014 tidak dijadikan terobosan baru.
Mendongkrak elektabilitas suara partai tak mesti melulu dilakukan dengan mempasangkan ketua umum partai dengan tiga nama calon potensial. Semestinya pelajaran Pilpres 2014 lalu dapat dilakukan oleh partai-partai politik dengan cara melakukan mengusung figur yang potensial dipilih oleh publik tanpa melakukan langkah monoton.
Nasdem melakukan itu dengan memajukan calon presiden saat itu Joko Widodo (Jokowi), tanpa harus diembel-embelkan dengan memasangkan bersama elite Nasdem. Padahal ketika itu, kans Jokowi amat kecil diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) sebab Ketua Umum Megawati Soekarnoputri masih enggan mengusung Jokowi yang bukan berasal dari elite partainya.
Akhirnya, Nasdem ketika itu bukan saja juga berhasil memperoleh kenaikan perolehan suara signifikan sebagai partai baru tetapi juga sekaligus partai yang loyal terhadap Presiden Jokowi. Periode pertama Presiden Jokowi kekuatan terbesar pemerintahan Jokowi lebih ditopang oleh Nasdem, sebab PDI Perjuangan kala itu benar-benar merasa dongkol karena Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang merupakan pemegang hak prerogatif sebagai pemilih calon presiden dari PDI Perjuangan begitu tertekan oleh keinginan publik dan dari internal partai politik, tanpa disadari kala itu Jokowi berhasil menekan Megawati Soekarnoputri melalui keseriusan Nasdem yang mengusungnya.
