Tetapi sekarang ini malah janggal dilakukan oleh mayoritas besar partai politik. Misal saja, Airlangga Hartarto yang perolehan suaranya pada angka nol koma sekian, malah diajukan berpasangan dengan Ganjar Pranowo. Partai-partai saat ini juga tak memanfaatkan peluang melakukan langkah politik yang lebih segar misal dengan mengusung figur perseorangan maupun mempasangkan diri dengan figur perseorangan lainnya.
Padahal figur perseorangan juga memperoleh penerimaan publik yang lebih baik dibandingkan calon-calon yang berasal dari elite-elite partai, seperti Ridwan Kamil, Erick Thohir, Tito Karnavian, Andika Perkasa, Listiyo Sigit Pranowo maupun Susi Pudjiastuti. Elite-elite partai terjebak kepada upaya mendongkrak elektabilitas partai dengan mengusung calon-calon tiga besar semata, akhirnya menjadi monoton paket pasangan calon yang ditawarkan tersebut.
Jebakan untuk Anies Baswedan
Saat ini, Anies Baswedan terkesan memperoleh dukungan kuat dari partai-partai politik yang berada di pemerintahan. Anies merasa dukungan tak sekadar datang dari PKS semata maupun Partai Demokrat, tetapi juga merasakan minat partai lain seperti Nasdem, PAN, PKB, PPP, maupun Partai Golkar. Sayangnya, mereka tidak benar-benar bersungguh hati telah berkhidmat mendukung Anies Baswedan. Popularitas dan elektabilitas Anies Baswedan hanya dipergunakan untuk menaikkan elektabilitas partai-partai itu semata.
PKS yang awalnya juga serius mengusung Anies malah terkesan telah “bermain hati” dengan mencoba mengusung Salim Segaf Al-Jufri yang merupakan elite partainya sendiri. Sedangkan, partai-partai pendukung pemerintahan hanya memainkan isu Anies sekadar mencari popularitas agar partainya tidak ketinggalan untuk dikonsumsi media, dengan harapan akan menaikkan elektabilitas partainya.
