Bahkan, yang menarik adalah, Sandiaga Uno malah membeberkan bahwa Anies awalnya tak memperoleh restu Partai Gerindra dan Prabowo Subianto melainkan dirinya yang diajukan sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. Tetapi karena masukan dari Sandiaga Uno sendiri sebagai strategi politik dan juga dirinya memilih “mengalah,” maka akhirnya Anies dimajukan sebagai langkah politik menjegal Agus Harimurti Yudhoyono untuk terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, akhirnya terbukti strategi politik ini.
Langkah-langkah politik yang dilakukan oleh berbagai partai dan pesan yang disampaikan oleh Sandiaga Uno, menunjukkan bahwa tingginya elektabilitas Anies Baswedan dari figur perseorangan untuk diusung sebagai calon presiden tak serta-merta ia dapat tinggi hati akan diusung sebagai calon presiden. Sebab, Anies Baswedan bisa saja kembali menunggu hingga menit terakhir diajukan sebagai calon presiden, seperti yang terjadi saat diajukan sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.
Prabowo Diusung Tapi Tak Dianggap Serius
Prabowo Subianto saat ini memang menarik dari segi elektabilitasnya. Dari segi elektabilitas Prabowo memeringkati tiga besar bersama Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Tetapi popularitas dan Elektabilitas Prabowo tidak membuat partai-partai lain berjuang serius untuk keempat kalinya mengusung Prabowo. Faktor Prabowo yang cenderung pasif saat ini dengan besar kemungkinan ia akan menjadi ‘king maker’membuat partai-partai lain menahan diri untuk menseriuskan mengkaji potensi Prabowo.
Figur Prabowo yang pasif saat ini juga sedang tidak dalam arus yang tenang, sebab internal Partai Gerindra juga mengharapkan Sandiaga Uno yang akan diajukan oleh Prabowo sebagai ‘king maker.’ Pesan yang disampaikan Sandiaga Uno yang berhasil meyakinkan Prabowo untuk tidak mengajukan dirinya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta melainkan Anies Baswedan yang sebaiknya diusung berpasangan dengan Sandiaga Uno.
