Ia mengatakan, di tahun politik ini potensi terjadi ketidak rukunan di masyarakat akibat perbedaan dalam pilihan politik, di mana politisi agama makin sering dilakukan untuk meraih efek elektoral, tak hanya itu politisi tempat ibadah juga sebagai ajang kampanye telah terjadi.

Untuk itu, penggunaan politik identik menjelang pemilu serta ditimigasi agar kerukunan umat tidak ternodai, ia mengajak seluruh masyarakat untuk belajar dalam mengamati pesta demokrasi sebelumnya, pasalnya masyarakat saat ini masih terbelah terutama pada media sosial.

"Hingga saat ini kita masih bisa rasakan efek dari pesta demokrasi sebelumnya, di mana masyarakat masih terbelah," ujarnya.

Dikatakan, keluarga besar Kemenag bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat harus terdepan dalam membina dan membangun kerukunan dan kedamaian agar perjalanan dan tahapan pemilu dapat dinikmati sebagai pesta demokrasi yang sesungguhnya.

"Saya minta tidak ada ASN Kemenag yang partisan terlebih melakukan provokasi di tengah keragaman pilihan, harus menjadi simpul kerukunan umat untuk mengantar pada Indonesia hebat," pungkasnya.