“Normalnya, sekitar 80 persen pasangan suami istri yang berhubungan seks teratur selama setahun akan mendapatkan kehamilan. Jadi, kalau sudah lewat setahun tanpa hasil, barulah pasangan itu masuk kategori infertil,” jelas dr Boyke.

Baca Juga: 10 Mitos Keliru dari Hubungan Ranjang, Berikut Fakta Medis Sebenarnya

Ia menegaskan bahwa infertilitas bukan hanya disebabkan oleh satu pihak. Data menunjukkan sekitar 45 persen kasus berasal dari faktor pria, sementara 55 persen lainnya dari faktor wanita. Oleh karena itu, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan oleh kedua belah pihak.

“Jangan langsung menyalahkan salah satu pihak. Infertilitas itu faktor bersama. Itu sebabnya, pemeriksaan medis harus dilakukan pada suami dan istri,” kata dr Boyke. Pernyataan ini menjadi pengingat penting dalam memahami persoalan kesuburan secara menyeluruh.

Selain faktor medis, kondisi psikologis juga memengaruhi peluang kehamilan. Stres dan tekanan berlebihan dapat mengganggu proses ovulasi maupun kualitas hubungan pasangan. “Jangan terlalu dibawa stres. Kadang pasangan yang santai dan tidak terlalu memikirkan cepat hamil justru lebih mudah mendapatkan kehamilan,” ungkapnya.