Agar dua peran itu tidak berhenti sebagai slogan, IDI dapat memulai dari lima agenda konkret berikut, yang masing-masing dapat diukur capaiannya.
Pertama: Iklim dan ketahanan sistem kesehatan. Krisis iklim diproyeksikan memicu peningkatan penyakit tular vektor, bencana ekologis, dan krisis pangan. IDI perlu memprakarsai kebijakan yang menghubungkan kelestarian lingkungan dengan ketahanan sistem kesehatan, termasuk pemetaan wilayah rawan dampak iklim dan pedoman kesiapsiagaan fasilitas kesehatan di daerah rawan bencana.
Kedua: Kecerdasan buatan dan data pasien. Pelayanan medis kian terhubung dengan kecerdasan buatan dan data besar. IDI perlu membentuk komite khusus untuk mengaudit bias algoritmik, menyusun standar etik penggunaan kecerdasan buatan dalam praktik klinis, dan mengawal privasi data kesehatan pasien dari potensi komersialisasi oleh pihak ketiga.
Ketiga: Cukai minuman berpemanis dan pengendalian gula, garam, dan lemak. Beban pembiayaan kuratif penyakit tidak menular diproyeksikan terus meningkat. IDI perlu konsisten mengawal cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan serta pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih agar anggaran kesehatan nasional tidak terbebani dalam dekade mendatang.
Keempat: Audit pembiayaan JKN. IDI perlu mendorong audit independen atas efisiensi pembiayaan JKN dan memastikan perluasan cakupan serta ketepatan sasaran Penerima Bantuan Iuran, guna mencegah ketimpangan akses layanan di daerah tertinggal dan terpencil.
