Kombes Syarif Hidayat, Dirkrimum Polda NTB, mengungkapkan bahwa modus operandi Agus adalah sering berawal dari pertemuan di taman.

“Pelaku memanfaatkan cerita kesedihan untuk menarik simpati korban. Setelah itu, dia mengolah cerita tersebut untuk dijadikan alat ancaman,” jelas Syarif, seperti dikutip dari tribunnews.com, Jumat (6/12/2024).

Agus kerap mendekati wanita yang sedang sendirian di taman, berpura-pura mendengarkan keluh kesah mereka. Cara ini digunakan untuk menciptakan kedekatan sebelum akhirnya menjebak mereka dalam skenario manipulatif.

Menurut Andre Safutra, pendamping korban, Agus bahkan menggunakan mantra-mantra untuk memperdaya korbannya. Salah satu kasus yang diungkap Andre terjadi pada 1 Oktober 2024.

“Pelaku membaca mantra sambil menyentuh kaki korban menggunakan kakinya. Setelah itu, dia meminta korban memberikan bunga, lalu kembali membaca mantra,” ungkap Andre.