Namun, praktik ini sebenarnya bukan tanpa dasar. Dijelaskan bahwa penggunaan kotoran sapi sebagai pelapis dinding dan lantai merupakan tradisi kuno yang telah dipraktikkan selama berabad-abad di pedesaan India.

Tradisi tersebut tidak hanya bertahan karena faktor budaya, melainkan juga karena terbukti efektif dalam menjaga suhu ruangan. Di tengah krisis iklim dan meningkatnya suhu ekstrem, metode alami seperti ini justru mulai dilirik kembali sebagai solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga: Penemuan Makam Nabi Zulkifli di Tembok China Sengaja Disembunyikan? Picu Teori Konspirasi Baru

Salah satu alasan kotoran sapi dianggap efektif adalah komposisinya yang bersifat organik dan mengandung serat tinggi. Ketika dicampur dengan tanah liat, bahan ini membentuk lapisan alami yang memungkinkan dinding "bernapas", sehingga membantu mengatur suhu di dalam ruangan secara alami.

Berbeda dengan bahan bangunan modern seperti semen, yang cenderung menyerap dan menyimpan panas, campuran kotoran sapi justru memungkinkan penguapan air. Hal ini menciptakan efek pendinginan alami yang membuat suhu ruangan tetap stabil bahkan saat suhu luar sangat tinggi.