Menurut laporan dari media lokal Jiupai News, dua pendiri restoran tersebut berasal dari kelompok etnis Blang di China dan satu lagi berasal dari Prancis. Mereka menghabiskan tujuh tahun untuk meneliti hutan hujan lebat di Provinsi Yunnan sebelum akhirnya membawa ide ekosistem tersebut ke tengah kota Shanghai melalui restoran ini.

Kotoran gajah diketahui kaya akan serat tanaman, yang menjadi alasan pemilihan bahan tersebut. Menurut South China Morning Post (SCMP), kotoran gajah yang telah disterilkan dianggap aman untuk dikonsumsi dalam konteks hidangan seni kuliner eksperimental seperti ini.

Namun demikian, muncul perdebatan terkait apakah hidangan ini telah memenuhi standar keamanan pangan. Undang-Undang Kebersihan Makanan China menyatakan bahwa makanan harus tidak beracun, tidak berbahaya, dan memenuhi standar gizi.

Meskipun telah didesinfeksi, belum ada konfirmasi resmi apakah kotoran gajah dalam bentuk kuliner memenuhi regulasi ini.

Reaksi netizen pun beragam. Seorang komentator di Douyin menulis, “Benar-benar menjijikkan dan menakutkan. Saya dari Provinsi Yunnan, tetapi kami jelas tidak mengonsumsi kotoran gajah di sini.”