Jadi, ketika terjadi catcalling, dampak yang terjadi pada korban adalah rasa tidak nyaman, marah, takut bahkan sampai mengubah perilaku, contohnya seperti harus mengubah rute tempat biasa mereka bepergian atau pulang. 

"Sehingga, ini yang menyebabkan ada orang asing di pinggir jalan merasa punya hak untuk mengatakan kepada perempuan itu 'mau pulang ke mana? Yuk dianterin, yuk'. Padahal orang itu bahkan nggak kenal sama kita," jelas dia.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan berdasarkan hasil survei Lentera Sintas Indonesia bersama organisasi lain seperti perEMPUan dan Hollaback! Jakarta, didapati bahwa selama ini catcalling sering dianggap hanya terjadi pada malam hari. 

Ternyata, justru persentase paling banyak terjadi di siang hari dan sore hari diikuti dengan pagi hari. 

"Jadi itu bukan masalah kalau kita pulang malam atau cara berpakaiannya. Tapi sebenarnya gimana pelaku catcalling melihat korban, apakah sebagai objek seksual, apakah sebagai manusia yang sedang beraktivitas sehari-hari," ungkapnya.