Penemuan ini pun mengundang respons dari berbagai kalangan, termasuk sejarawan dan arkeolog dari luar negeri. Beberapa di antara mereka mulai berdatangan ke lokasi yang kini telah dibatasi aksesnya oleh pemerintah Tiongkok. Proses penelitian lanjutan sedang dilakukan untuk memastikan keabsahan klaim tersebut.

Namun, tidak semua pihak menerima dugaan itu secara langsung. Sebagian akademisi menyampaikan perlunya kehati-hatian dalam menarik kesimpulan.

“Perlu penyelidikan mendalam. Istilah ‘nabi’ sangat umum dalam banyak budaya,” ungkap Dr. Aminullah, pakar sejarah Timur Tengah dari Universitas Al-Azhar.

Ia menambahkan bahwa proses identifikasi harus melalui tahapan ilmiah yang ketat agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.

“Kita harus berhati-hati agar tidak mempolitisasi temuan ini,” tambahnya dalam sebuah pernyataan kepada media ilmiah Timur Tengah.