Salah seorang karyawan, Sarfia, mengungkapkan bahwa kerumunan yang begitu besar membuat mereka kesulitan menjaga ketertiban. Bahkan, pihak toko terpaksa memanggil pihak kepolisian untuk mengatur massa yang datang.
“Antrean sangat panjang dan ramai. Beberapa kali kami terpaksa menutup pintu masuk karena pengunjung menerobos dan merusak barang-barang yang kami jual. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, kami memanggil pihak kepolisian,” kata Sarfia.
Sarfia juga menjelaskan bahwa meskipun toko seharusnya buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga 10 malam, jam operasional bisa berubah jika situasi menjadi tidak kondusif. Terkadang toko sempat ditutup sementara untuk memastikan keamanan.
"Karena kerumunan yang tidak terkendali, kami khawatir kalau situasi terus dibiarkan, bisa terjadi kerusakan lebih banyak dan membahayakan pengunjung," tambahnya.
Fenomena antrean panjang ini pertama kali terjadi saat toko dibuka dan menawarkan berbagai barang dengan harga serba Rp 35.000. Perabotan rumah tangga, alat listrik, elektronik, sepatu, dan sendal semuanya dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Tawaran harga murah ini langsung menarik perhatian masyarakat, apalagi di tengah tingginya biaya hidup yang semakin melonjak.
