Ia berharap masyarakat atau peternak dapat menyemprotkan sendiri disinfektan yang dibagikan. Mereka juga diimbau mengenakan alat pelindung diri.
Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan, Melki Angsar mengatakan, virus babi atau lebih dikenal dengan istilah ASF merebak di Nusa Tenggara Timur sejak dua tahun lalu. Ratusan ekor babi dilaporkan mati mendadak.
Ia menegaskan, penyemprotan disinfektan tersebut seharusnya menjadi prosedur standar suatu peternakan yang baik. Hal itu untuk meminimalisir berbagai virus, tidak hanya ASF, tetapi juga hog colera, serta penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan berkuku belah. (B)
Penulis: Berto Davids
Editor: Kardin
