Sementara itu, Wagub Sultra dalam sambutannya, menyampaikan, dirinya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga sang torayan.
"Saya selalu menghadiri acara-acara sang torayan yang dilaksanakan di wilayah Sultra baik acara perkawinan, perayaan natal (rambu tuka), juga pada ujung acara kematian (rambu solo). Saya juga sudah dapat dipanggil solata," kata Wagub.
Lebih lanjut LA menuturkan, organisasi KST-KU merupakan manifestasi dari kekompakan, kebersamaan yang selalu dirindukan masyarakat Toraja dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang telah ada sejak zaman dahulu.

Falsafah masyarakat Toraja "mesak kada dipotuo pantan kada di pomate (bersatu kita teguh bercera kita runtuh)," ini selalu ditunjukkan dengan sifat gotong royong yang tinggi saling membantu dalam setiap kegiatan baik suka maupun duka.
