Begitu juga dengan standarisasi open data akan menjadi satu hal fundamental ketika ingin disatukan. Tantangannya untuk open data di lapangan adalah mungkin saja tidak semua kementerian/badan/pemerintahan mengerti dan sudah menerapkan open data ini, belum lagi terkadang transparansi data sengaja di “mainkan” oleh oknum untuk memperkaya dirinya sendiri.

Hal lain ini yang perlu di kaji dalam perencanaan integrasi data adalah dari issue teknis. dimana kendala muncul karena kemungkinan terdapat issue kemampuan dari dua atau lebih sistem atau komponen untuk berbagi pakai data/ informasi. Sebab kompatibilitas tidak dapat menjamin bahwa setiap sistem dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sistem lainnya.

Jadi tidak bisa dengan tiba-tiba  dan serta merta main langsung melakukan integrasi 24 ribu aplikasi. Mencermati dengan seksama kendala teknis, untuk mencegah proyek untuk menyatukan data, jadi proyek yang mangkrak juga.

Untuk itu yang pertama dilakukan sejak awal sebelum mengintegrasikan data adalah melakukan mapping dan klasifikasi dari 24 ribu aplikasi yang ada, mana yang berjalan dan mana yang tidak. Kemudian collect semua dokumentasi teknis systemnya dan apabila tidak ada dokumentasi teknis nya, cari tau siapa pengembangnya, kejar pengembangnya dan cari tau juga berapa anggarannya, untuk system yang anggarannya relatif murah dan tidak terpakai ya dibuang saja,

Jika semua aplikasi sudah termapping, baru kemudian issue selanjutnya bagaimana system-system yang terpilih ini di pikirkan bridging API nya (Application Programming Interface), sehingga issue interoperability tadi terjawab, dan masing-masing layanan tsb bisa berkomunikasi data secara terintegrasi