Di mana data perhitungan potensi yang masuk ke statistik tidak sesuai atau terlalu kecil, sehingga jika dihitung dengan jumlah masyarakat yang mengonsumsi, maka Wakatobi masih masuk dalam kategori rawan.

"Ternyata setelah dicek data produksi yang dikasih masuk tidak benar. Saya cek datanya Wakatobi, ubi kayu cuma 300 sekian ton padahal harusnya 7 ribuan, sehingga kalau potensi daerah di bandingkan dengan masyarakat yang akan mengonsumsi itu agak rentan, karena potensinya Wakatobi yang dimasukkan itu kecil," tuturnya pada beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Jadi Khatib Salat Idul Adha di Lapangan Balai Kota Kendari, Ini Pesan Wakil Gubernur

Saat ini, pihaknya tengah memperbaiki data, sehingga diharapkan di tahun ini Wakatobi bisa keluar dari zona rawan. Selain itu, Disketapang melakukan rapat koordinasi dengan Pemda Wakatobi terkait penyediaan cadangan pangan pemerintah (CPP).

Sementara itu, Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Disketapang Sulawesi Tenggara, Aristos mengatakan, daerah rawan pangan itu akan ditindaklanjuti hingga di tingkat kecamatan.