Menurutnya, forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi energi Indonesia yang beragam, mulai dari sumber fosil hingga energi baru terbarukan (EBT). Ia menilai, tuntutan global terhadap pengelolaan tambang yang ramah lingkungan kini semakin kuat.

“Harapannya, negara-negara maju mau membeli hasil tambang Indonesia hanya jika dikelola dengan cara-cara yang baik dan legal. Ini juga dorongan agar perusahaan di Indonesia memperbaiki pengelolaan lingkungannya,” ujarnya.

Abdul Khalik juga menyoroti inovasi energi di Sulawesi Tenggara, salah satunya penggunaan tanaman gamal sebagai bahan bakar alternatif di PLTU Tanasa.

“Di PLTU Tanasa sudah digunakan campuran bahan bakar dari kayu gamal. Dari 100 persen batubara, kini sekitar 20–28 persen sudah digantikan oleh energi terbarukan ini,” katanya.

Ia menjelaskan, tanaman gamal menjadi pilihan karena memiliki masa tumbuh cepat, hanya sekitar enam bulan hingga bisa dipanen kembali. Selain ramah lingkungan, program ini membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa di sekitar tambang.