Alih-alih melawan stigma Sheng-nu dengan protes kepada para penganut kepercayaan tersebut, atau turun di jalanan berdemo dan menyuarakan pendapat mereka, perempuan lajang China lebih memilih menunjukkan penolakan melalui kekuatan ekonomi mereka. Para perempuan yang percaya diri ini menggunakan konsumerisme untuk melawan stigma tersebut.
Baca Juga: Deretan Negara yang Bayar Warganya untuk Berhubungan Sex, Nomor 5 Tetangga Indonesia
“Saat kumpul keluarga, tante saya suka mengghibah orang tua saya masih lajang. Mungkin dalam pikirannya, saya menjalani kehidupan yang menyedihkan. Saya perlu membela orang tua saya, (sehingga) saya senantiasa meningkatkan citra diri saya sendiri dengan banyak membeli pakaian mahal,” ungkap salah seorang perempuan lajang di China berusia 33 tahun.
Selain itu, di China juga menerapkan ancaman hukum serius apabila melakukan konfrontasi langsung dalam bentuk aktivisme sosial melawan stigma “Sheng-nu” ini.
Karena semakin banyak perempuan modern China yang melawan stigma tersebut, mereka menggagas adanya Hari Lajang. (C)
