"Di sini, ada angkutan umum yang disebut 'boda bodas', di mana para gadis setempat kerap terpaksa mengiyakan 'keinginan seksual' pengemudinya, dengan imbalan diantar membeli pembalut," jelas Andrew Tevett, kepala urusan Air, Sanitasi, dan Higienitas pada Unicef di Kenya.
"Hal ini terjadi karena dua alasan. Salah satu alasan yang jelas adalah kemiskinan. Anak gadis dan wanita tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli produk sanitasi," lanjutnya menjelaskan.
Melansir Merdeka.com, dijelaskan pula oleh Trevett bahwa seks transaksional untuk produk sanitasi terjadi karena barang-barang tersebut tidak tersedia di desa-desa tempat para korban tinggal.
Di pedesaan, anak gadis dihadapkan oleh sedikit armada transportasi dan ketidakmampuan dalam membayar ongkos bus. Di beberapa desa terpencil, bahkan tidak ada jalan dan tidak ada layanan bus sama sekali.
Baca Juga: Negara Ini Ada Jasa Tidur di Atas Bokong Wanita Cantik, Buat Pria Melepas Lelah
