Trevett juga mencatat bahwa tabu yang mengakar kuat tentang menstruasi, membuat warga Kenya mengalami kelangkaan informasi yang tersedia untuk wanita dan anak perempuan.
Minimnya informasi tentang penanganan menstruasi adalah masalah besar di Kenya, di mana Unicef menemukan tujuh persen wanita dan anak gadis setempat bergantung pada kain lama, potongan selimut, bulu ayam, lumpur dan koran, dibandingkan pembalut.
Sebanyak 46 persen lainnya menggunakan bantalan sekali pakai dan enam persen menggunakan bantalan yang dapat digunakan kembali.
Selain itu, 76 persen wanita dan anak gadis di Kenya menghadapi tantangan dalam mendapatkan akses ke fasilitas air dan sanitasi yang memadai untuk menstruasi. (C)
Penulis: Ibnu Sina Ali Hakim
