"Selama ada perusahaan ini keadaan semakin buruk. Masih jauh lebih baik sebelum ada PT Riota. Lebih enak perasaan. Karena sekarang ini ada masalah debu kalau panas, kalau hujan jalanan rusak penuh lumpur. Perusahaan juga tidak mau perbaiki jalanan. Kemarin itu perbaiki jalan karena mau datang saja anggota DPRD provinsi," beber Abdullah, baru-baru ini.

Selain permasalahan pencemaran lingkungan, masalah lain adalah rusaknya sarana air bersih milik masyarakat desa yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan.

Baca juga: Resmikan Sekretariat Satgas COVID-19, Ini Pesan Bupati Buton Utara

"Sekarang air juga tidak jalan sudah seminggu karena pipa pecah diinjak mobil-mobilnya perusahaan. Padahal dulu perusahaan sudah bikin perjanjian mau perbaiki jalan itu secara gotong royong. Kami ini masyarakat juga punya malu Pak, kalau misalnya setiap hari masalah ini terus yang mau 'digonggong'. Mereka perusahaan yang tidak mau mengerti," ujarnya.

Mata pencarian masyarakat sebagai nelayan juga menjadi hal lain yang terdampak dari aktivitas PT RJL.