Tokoh Masyarakat Sri Batara, Dasman menjelaskan, Pesta Panen Bawona Tao, merupakan acara pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil tanaman yang akan dipanen musim ini. Selain itu, Bawona Tao merupakan ungkapan bahagia masyarakat atas rezeki yang melimpah.
Sebelum acara puncak Bawona Tao digelar, lanjutnya, masyarakat setempat lebih dulu menggelar ritual, Petambori, atau musyawarah duduk bersama para perangkat adat untuk menentukan waktu panen. Setelah Petambori selesai, kemudian dilanjutkan dengan ritual, Kole-kole, atau ritual menerawang jarak antara bulan, bintang dan matahari. Rangkaian ritual bertujuan untuk memastikan turunnya hujan.
Setelah semua ritual memastikan turunnya hujan selesai, kemudian dilanjutkan ritual, Timbesi dan Lukani atau membakar lahan yang akan dijadikan lokasi bercocok tanam.
"Sebagai puncak ritual itu, digelarlah Bawona Tao seraya memanjatkan doa-doa pada sang khalik untuk keberhasilan panen berikutnya," tutur Dasman.
Ritual tahunan kali ini dihadiri langsung Bupati Buton, Drs. La Bakri, MSi dan Kapolres Buton, AKBP Agung Ramos Paretongan Sinaga.
