Kejadian itu dinilai berdampak buruk sebab menurut Federasi Jurnalis Internasional, lebih dari 90 persen dari mereka merupakan pencari nafkah tunggal.
“Para ibu tidak dapat membayar perawatan antenatal dan postnatal mereka, dan sebagai bukti angka kematian dan kesakitan ibu meningkat pesat, dan juga mempengaruhi kematian anak,” terang mantan Menteri Kesehatan Afghanistan, Dr Wahid Majrooh.
Menurut data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Masyarakat (Kemenkes) awal bulan ini, hampir 13.700 bayi baru lahir dan 26 ibu meninggal pada 2022 karena kekurangan gizi.
Melansir Suara.com jaringan Telisik.id, Kepala Departemen Nutrisi Direktorat Kesehatan Masyarakat, Dr Abdul Rahman Ulfat menyatakan bahwa di Provinsi Baghlan bahwa dia telah mengamati adanya peningkatan kasus kelaparan dan kekurangan gizi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menemukan bahwa anak-anak yang berusia di bawah lima tahun adalah yang paling terpengaruh.
