Dari perbincangan di kedai kopi semua bisa terjadi. Mulai dari bicara politik, kampanye lingkungan, jualan, sampai menyelesaikan konflik. Mereka seperti percaya “kentalnya kopi bisa mencairkan suasana.” Namun ketika COVID-19 menjadi wabah yang sangat masif seperti sekarang ini, kebiasaan ngopi bersama menjadi media yang cepat untuk membantu penyebaran virus tersebut.
Di Sulawesi Tenggara sendiri, hingga 28 Maret 2020 sudah 1.160 orang yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP), 12 orang yang berstatus pasien dalam pengawasan dan 3 orang yang berstatus positif. Angka ini diperkirakan bakal terus bertambah.
Di tengah wabah ini, bisnis kopi sebenarnya sedang naik daun yang terlihat dari banyaknya kedai kopi baru bermunculan di Kendari dan daerah-daerah lain di Sulawesi Tenggara.
Namun, tidak banyak yang merelakan profit mereka untuk kepentingan lebih besar yaitu melawan virus corona. Alhasil, kedai kopi dan kafe tempat berkumpulnya warga, mahasiswa, dan pelajar yang sekolahnya diliburkan pada masa darurat COVID-19 menjadi sepi.
Salah satu pelaku usaha yang peduli adalah pemilik kedai kopi bernama Kopi Radja di Kota Kendari sudah menutup kedainya untuk mencegah penyebaran COVID-19.
