"Karena kan itu tergantung juga dengan jumlah virusnya. Artinya kalau OTG itu kan seseorang mampu--istilahnya apa ya--melawan dari infeksi virus yang masuk ke tubuh sehingga tidak menimbulkan gejala. Tapi sebetulnya virus itu kan berkembang di dalam tubuh," tambah Laura.

Tapi sekalipun begitu, untuk kasus di Indonesia, kewaspadaan serupa perlu diterapkan pada OTG. Sebab, terdapat faktor penularan lain seperti karakteristik masyarakat, waktu interaksi dan jarak interaksi.

Baca juga: Warga Nambo Kaget Namanya Hilang Sebagai Penerima BST

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang padat, ia menyebut orang tanpa gejala bisa berpotensi menjadi salah satu sumber penularan.

"Kalau OTG hanya kontak sekali, itu ya tidak terjadi penularan. Tapi yang saya khawatirkan, masyarakat Indonesia itu kan padat penduduk. Jadi ya dengan adanya interaksi pada jarak dekat, itu kan bisa memunculkan kemungkinan itu, sekalipun itu OTG," jelas Laura.