Tubuh mungil Bernadette terbalut dalam rapat memakai jubah biarawati. Memang jubahnya nampak lembab namun tetap saja wajah Bernadette masih cantik dan kedua tangannya mengenggam Rosario.

Dokter Jourdan sebagai dokter ahli bedah juga ikut mengamati jenazah Bernadette. Ia memperhatikan seluruh gigi dalam mulut yang masih dalam keadaan sempurna, begitu juga dengan organ tubuh dan kuku-kuku di jari tangannya. Jika diperhatikan sekilas, tidak ada yang menyangka jika Bernadette sudah meninggal karena sekilas seperti sedang tertidur.

Usai proses identifikasi jenazah selesai dilakukan, para biarawati yang ikut menghadiri proses itu langsung membasuh tubuh Bernadette dan mengganti jubah yang lama dengan jubah yang baru. Jenazah itu dimasukkan ke dalam peti berlapis kain sutera putih dan dikuburkan kembali.

Melansir Riau24.com, akibat proses pengangkatan jenazah sebanyak 4 kali dan selalu melakukan pembasuhan jenazah hingga terkontaminasi oleh organisme udara, kondisi kulit wajah pada jenazah abadi Santa Bernadette sedikit mengalami pudar warnanya hingga diusulkan untuk dilapisi bagian wajah serta kedua tangan dengan lapisan lilin yang sangat tipis untuk menimbulkan kembali warna cerahnya.

Perusahaan Pierre Imans yang berlokasi di Paris ditunjuk untuk melakukan proses pelapisan lilin tipis ini. Selang 2 bulan kemudian tanggal 14 Juni 1925, Paus Pius XI mengumumkan bahwa Bernadette Soubirous telah di sertifikasi dengan gelar Beata. Dan jenazahnya boleh dipertontonkan dan diberikan penghormatan oleh umat beriman dari seluruh penjuru dunia.