Padahal di sisi lain sudah dikembangkan bio fuel (green energi) namun karena masih mahal, negara-negara industri barat masih enggan beralih dari batubara. Dan masih banyak lagi yang coba ditutupi dengan beberapa kesepakatan.  

Dengan sigapnya Indonesia mempersilahkan dunia mengoprek kedaulatan negaranya, semua pembantu presiden seketika berada dalam satu suara, perbanyak proyek, perbanyak investasi. Dan muncullah kesepakatan untuk menjaga kondisi air  melalui berbagai cara. Meski ada proyek untuk kalangan rumah tangga seperti SPAM di Serpong, namun keuntungan paling besar pasti diraih oleh pengelola yaitu Perusahaan/investor/ pengusaha. Kita tidak bisa menafikan itu.  

Terutama dengan fakta para investor itulah yang memiliki teknologi, dana , ahli berikut tenaga kerjanya. Sementara rakyat sebagai konsumen saja, bisa jadi akan membayar berbagai fasilitas yang bersumber dari air tersebut. Dan faktanya memang Indonesia adalah pasar strategis bagi negara kapitalis.

Kita bisa lihat apa yang terjadi di IKN, semua diuji cobakan di sana terkait teknologi canggih, bahkan presiden Joko Widodo mempersilahkan warga Singapura untuk pindah dan menempati IKN. Belum lagi dengan panjangnya hak guna tanah-tanah di IKN hingga mencapai 90 tahun. Apa yang tersisa untuk rakyat?

Berkedok Investasi, Solusi pada Islam