Taubat yang dibutuhkan bukanlah seperti taubat yang sering kita kerjakan. Kita bertaubat, lidah kita mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah”, akan tetapi hati kita lalai, akan tetapi setelah ucapan tersebut, dosa itu kembali terulang. Namun, yang dibutuhkan adalah totalitas dan kejujuran taubat.

Jangan pula taubat tersebut hanya dilakukan di bulan Ramadan sementara di luar Ramadan kemaksiatan kembali digalakkan. Ramadan merupakan momentum ketaatan sekaligus madrasah untuk membiasakan diri beramal saleh sehingga jiwa terdidik untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan di sebelas bulan lainnya.

Sementara itu, dilansir dari NU online, persiapan yang harus dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan adalah persiapan fisik dan mental.

Persiapan fisik agar tubuh kita dapat beradaptasi dengan baik yakni melalui latihan puasa di bulan-bulan sebelumnya, seperti bulan Rajab dan Sya’ban, seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Selain persiapan fisik, penting juga untuk melakukan persiapan mental menghadapi Ramadan. Persiapan ini bisa dilakukan dengan menanamkan kegembiraan dalam diri kita. Secara psikologis, rasa gembira saat menyambut sesuatu akan menumbuhkan kecintaan dalam melakukan sesuatu.