Masyarakat Pulau Makasar Gelar Tuturangi Andala Harap Festival Perairan Dikembalikan
Ali Iskandar Majid, telisik indonesia
Rabu, 29 Juli 2026
0 dilihat
Prosesi pembacaan doa sebelum pelepasan kapelanto pada ritual Tuturangi Andala, Rabu (29/7/2026). Foto: Ali Iskandar Majid/Telisik
" Masyarakat Pulau Makasar, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menyelenggarakan ritual adat Tuturangi Andala, yang merupakan rangkaian dari festival perairan yang sudah vakum selama lebih dari satu dekade. Mereka berharap festival tersebut kembali dihidupkan "


BAUBAU, TELISIK.ID - Masyarakat Pulau Makasar, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menyelenggarakan ritual adat Tuturangi Andala, yang merupakan rangkaian dari festival perairan yang sudah vakum selama lebih dari satu dekade. Mereka berharap festival tersebut kembali dihidupkan.
Perwakilan pemuda Pulau Makasar warga Kelurahan Sukanaeyo, Kecamatan Kokalukuna, Latif, adalah yang menginisiasi kegiatan ritual adat Tuturangi Andala.
Latif menceritakan, Festival Perairan Pulau Makasar sebelumnya rutin digelar setiap tahun. Terakhir kali diselenggarakan pada awal masa pemerintahan A.S Tamrin, Wali Kota Baubau yang kedua pada tahun 2013.
Baca Juga: Astindo Sultra Datangkan 80 Wisatawan ke Festival Labengki, Dampak Ekonomi Tembus Rp 241 Juta
Setelah itu, Festival Perairan Pulau Makasar vakum hingga lebih dari satu dekade. Latif mengutarakan alasan diadakan ritual Tuturangi Andala sebab merupakan salah satu rangkaian kegiatan event tahunan tersebut.
"Alasan lainnya untuk mengembalikan apa yang sudah dilaksanakan pemerintah sebelumnya (Festival Perairan Pulau Makasar)," ungkapnya, Rabu (29/7/2026).
"Harapan kami agar Pemkot Baubau mengadakan kembali event tahunan tersebut," lanjutnya.
Latif menjelaskan, digelarnya ritual Tuturangi Andala di pesisir pantai La Korapu mempunyai tujuan lain. Yakni, sebagai langkah awal untuk memulai aktivitas melaut oleh nelayan setempat.
Tokoh Masyarakat Sukanaeyo, La Bau, mengatakan, Tuturangi Andala merupakan tradisi turun temurun warga setempat yang dilakukan setiap tahun, dengan tujuan memohon kelimpahan hasil tangkap (ikan) kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Ritual ini kepentingannya orang banyak (nelayan) karena kita minta kelimpahan hasil tangkap ikan kepada Tuhan," katanya.
Baca Juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Kepala BRIN Bakal Hadiri Festival Liangkobori di Muna
Dalam ritual tersebut terdapat sesaji yang berisikan telur, nasi, rokok, daun sirih, gambir, serta kue tradisional yang diletakkan dalam satu wadah (kapelanto), yang selanjutnya dihanyutkan ke area perairan Pulau Makasar.
Pelepasan sesaji tidak asal dilakukan, kedalaman air harus mencapai sekitar 15 meter dan harus menghadap ke arah barat.
La Bau berharap dengan diadakannya ritual ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat Pulau Makasar untuk bersama menghidupkan kembali Festival Perairan yang pernah menjadi ikon di wilayah mereka. (C)
Penulis: Ali Iskandar Majid
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS