YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Mengembalikan keberadaan Masjid Jogokariyan sebagai pusat peradaban memang tidak berhenti dilakukan Muhammad Jazir ASP.

Salah satu tokoh penting di Yogyakarta dalam mewujudkan cita-cita tersebut, kini tidak lagi muda. Membuatnya tidak selincah Jazir dulu, yang semangatnya membara ketika memberi khutbah.

Gagasan-gagasan yang muncul dari kepalanya masih lincah, berisikan ambisi dan penuh inovasi, yang mampu ditularkan dalam kegiatan-kegiatan yang menuntun umat menuju kaffah. Inovasinya terus ditebarkan dalam program-program yang memiliki tujuan menyejahterakan masyarakat.

Masjid Jogokariyan, tidak sekadar jadi tempat melaksanakan salat. Tapi justru sebagai pusat sosialisasi masyarakat.

Masjid itu berdiri pada 22 September 1966. Setelah penumpasan G30S/PKI, masjid yang awalnya berukuran 9 x 9 meter tersebut mulai dipakai 20 Agustus 1967. Waktu itu yang salat hanya 10 orang dewasa. Sisanya anak-anak.