KENDARI, TELISIK.ID - Masyarakat Kota Kendari patut bersyukur karena musim kemarau tahun ini berbeda dari biasanya. Meskipun masih berada di puncak musim kemarau, fenomena La Nina dalam fase lemah memberikan dampak positif bagi wilayah Sulawesi Tenggara.
Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara, Aris Yunatas saat ditemui di salah satu kegiatan menyampaikan, musim kemarau diawali pada bulan Juli kemudian pada bulan Agustus hingga Oktober merupakan puncak dari musim kemarau.
"Sekarang kita masih puncak musim kemarau, bulan Oktober masih musim kemarau, cuma di musim kemarau kali ini ada fenomena La Nina netral namun ketika kita melihat secara detail sebenarnya kita berada di posisi La Nina dalam fase lemah," ujarnya, Kamis (10/10/2024).
Kata dia, musim kemarau dalam keadaan La Nina fase lemah sangat menguntungkan. Dampak musim kemarau seperti kebakaran hutan dan lahan, kekeringan lahan pertanian, dan kekurangan air bersih, tidak terjadi karena ada hujan-hujan pada musim kemarau.
Baca Juga: Puncak Musim Kemarau September 2024: Hutan Enam Kabupaten di Sultra Potensi Terbakar
