adplus-dvertising

Niat Cari Kekurangan Al-Quran, Pria Ini Malah Terpukau dan Jadi Mualaf

Nurdian Pratiwi, telisik indonesia
Jumat, 12 Agustus 2022
907 dilihat
Niat Cari Kekurangan Al-Quran, Pria Ini Malah Terpukau dan Jadi Mualaf
Seorang ilmuan profesor Matematika asal Kanada Prof. Dr. Gary Miller, menjadi mualaf masuk Islam setelah meneliti Al-Quran. Foto: Repro Umma.id

" Memutuskan untuk menjadi seorang mualaf merupakan hal yang membutuhkan tekad yang besar "

OTTAWA, TELISIK.ID - Memutuskan untuk menjadi seorang mualaf merupakan hal yang membutuhkan tekad yang besar. Selain itu, kisah mualaf pun datang dari berbagai belahan dunia serta dari berbagai kalangan dan profesi yang berbeda.

Seperti halnya kisah seorang pria asal Kanada bernama Gary Miller yang menjadi mualaf masuk Islam setelah meneliti Al-Quran.

Mengutip dari Republika.co.id, Gary Miller merupakan seorang profesor matematika.


Dia dibesarkan di Kanada. Sekolah-sekolah keagamaan adalah tempatnya menimba ilmu. Selain mendapatkan pengetahuan, dia di sana juga mendapatkan keimanan.

Dia kemudian belajar teologi di Universitas Wheeling Jesuit, Amerika Serikat. Prestasi akademik banyak diraihnya di sana. Anugerah kecerdasan telah memudahkannya memahami berbagai ilmu pengetahuan.

Berkat kecerdasan dan bakatnya, dia menjadi pendukung penyebaran agamanya yang aktif dalam berbagai kesempatan.

Dia menyebarkan keyakinannya kepada khalayak ramai. Dengan penuh semangat, lelaki itu berdiri di podium dan menjelaskan ajaran keimanan yang ketika itu diyakininya benar. Ceramahnya juga ditayangkan di televisi. Kemudian, ia mendapat gelar doktor dalam bidang matematika dari Universitas Toronto.

Pemikiran ilmiah Miller kerap berbenturan dengan ajaran agama yang dianut. Hal ini membuatnya tidak nyaman sehingga dia lebih memutuskan untuk berpindah ke agama lain. Dia juga berpidah-pindah rumah ibadahnya selama sembilan tahun karena tidak mendapatkan jawaban dari pemuka agama soal ketuhanan.

Pertanyaan dan penjelasan Miller kerap membuat pusing pemuka agama. Mereka yang seharusnya mampu memberikan jawaban untuk menambah keimanan masyarakat, malah terdiam. Pemuka agama itu tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada Miller.

Ketidakpuasan yang muncul karena jawaban itu tidak didiamkan. Miller mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban yang dapat menghilangkan rasa penasarannya.

Dia pun akhirnya mulai membaca buku-buku tentang Islam karangan orientalis. Ketika membaca buku itu, Miller tidak melepaskan sikap kritis.

Dia tetap mempertanyakan kesimpulan-kesimpulan orientalis yang kerap memojokkan ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Bagaimana mungkin seorang nabi yang ajarannya kini mendunia disebut tidak waras.

Apakah mungkin sosok utusan Sang Pencipta yang membawa dan menyebarkan risalah Ilahiyah hidup dengan abnormal. Kesimpulan-kesimpulan semacam itu sama sekali tidak masuk akal. Dia mengabaikannya.

Tak puas dengan buku-buku para orientalis, Gary mempelajari sumber ajaran Islam paling akurat yaitu al-Quran.

Dikutip dari Islam.id, salah satu yang membuatnya tercengang dan membuktikan kebenaran Al-Quran adalah Wahyu Allah, bukan karangan manusia (Muhammad).

Hal itu tertuang dalam Surat Al Lahab dan surah az-Zariyat ayat 52-53 yang bunyinya adalah:

"Tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.' Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas."

Sindiran Allah dalam firman itu menyadarkannya bahwa tudingan orientalis bukan hal baru. Mereka hanya mengulang apa yang dilakukan masyarakat dahulu yang menolak risalah Islam. Al-Quran jelas menerangkan Rasulullah tidak berdusta.

Setelah memeluk Islam, Prof. Gary Miller berkata:

“Surat Al-Lahab (yang memvonis Abu Lahab dan istrinya akan tetap kafir dan masuk neraka) turun 10 tahun sebelum wafatnya Abu Lahab.

Artinya, Abu Lahab memiliki 10x365hari = 3650 hari kesempatan untuk membuktikan, bahwasanya Al-Quran adalah kitab palsu dengan cara ia masuk Islam, namun ia tidak melaksanakan tantangan tersebut, padahal ayat-ayat surat Al-Lahab terus dibacakan bahkan hingga hari ini.

Dalam bukunya yang berjudul "The Amazing Quran", Prof Dr Gary Miller menulis, "Nabi Muhammad punya seorang paman bernama Abu Lahab. Orang ini pembenci Islam demikian rupa sehingga dia biasa mengikuti Nabi ke mana-mana untuk memojokkannya.

Baca Juga: Ini Harga Mi Instan di 5 Negara Asia, Ada Tembus Rp 45 Ribu per Bungkus

Jika Abu Lahab melihat Nabi berbicara kepada seorang yang asing, dinantikannya dulu sampai keduanya berpisah. Kemudian si asing itu ditemuinya sambil bertanya, 'Apa yang dikatakan kepada engkau?' 'Apakah dia mengatakan hitam?' 'Itu sebenarnya putih.' 'Apakah dia mengatakan pagi?' 'Ya, itu sebetulnya, malam."

Pendek kata, Abu Lahab selalu memutar balik apa saja yang didengar si asing itu dari Muhammad dan orang Islam. Abu Lahab meninggal dalam suasana tekanan batin yang luar biasa sekitar 10 tahun setelah turunnya surat ini, pasca-Perang Badr (tahun kedua hijriah), karena harapannya tumbang sudah bagi kemenangan pasukan Quraisy yang ingin menghancurkan Islam sekali dan untuk selama-lamanya.

Baca Juga: Bisa Bikin Kiamat, PBB Minta Nuklir Rusia Jangan Dipakai

Bagi Dr Miller, nasib nahas yang menimpa Abu Lahab yang sudah diberitakan jauh sebelumnya dalam surat al-Lahab di atas sungguh sangat mencengangkan. Mengapa? Karena, tak mungkin seorang Nabi meramalkan nasib pamannya itu jauh sebelum akhir hidup yang dramatis itu menimpa Abu Lahab. Pasti berita itu berasal dari langit yang tak pernah salah.

Inilah salah satu penyebab mengapa Dr Miller menjadi seorang Muslim pada 1978. (C)

Penulis: Nurdian Pratiwi

Editor: Kardin

Artikel Terkait
Baca Juga