3 Tradisi Unik Pasca Lebaran di Indonesia
Content Creator
Senin, 23 Maret 2026 / 1:13 pm
Lebaran Ketupat merupakan tradisi yang digelar pada tanggal 8 Syawal oleh masyarakat Jawa. Foto: Repro Aswaja
JAKARTA, TELISIK.ID - Meski Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal telah usai, euforia lebaran di Indonesia belum benar-benar berakhir. Banyak daerah masih merayakan tradisi khas pasca lebaran yang jatuh sekitar 6–8 Syawal.
Tradisi ini bukan hanya soal makan-makan, melainkan simbol syukur, pengakuan kesalahan, silaturahmi, dan kerukunan antarumat.
Berikut beberapa tradisi paling unik yang masih lestari hingga kini:
1. Lebaran Ketupat
Tradisi ini digelar tepat pada tanggal 8 Syawal. Masyarakat Jawa termasuk di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga kampung Jawa di luar pulau seperti Buleleng Bali atau Tomohon membuat dan menyantap ketupat bersama keluarga besar, diiringi ziarah kubur serta doa bersama.
Kata kupat berasal dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Ketupat yang dibungkus daun kelapa melambangkan kesucian hati setelah menjalani puasa Ramadhan dan puasa sunah 6 hari Syawal.
Tradisi ini diyakini diperkenalkan Sunan Kalijaga sebagai pelengkap kemenangan melawan nafsu, seperti dilansir dari liputan6.com, Senin (23/3/2026).
Baca Juga: Pesona Air Terjun Tumburano Konawe Kepulauan jadi Pemikat Wisatawan saat Libur Lebaran
2. Perang Ketupat
Bagian dari rangkaian Lebaran Ketupat, warga Kudus menggelar “perang” ramah dengan saling melempar ketupat.
Bukan untuk menyakiti, melainkan simbol meleburkan dosa dan kesalahan satu sama lain.
Setelah perang usai, ketupat yang berserakan biasanya dikumpulkan dan dibagikan atau ditanam sebagai doa kesuburan.
3. Lebaran Topat dan Perang Topat
Di Pulau Lombok khususnya Lingsar, Lombok Barat, masyarakat Sasak merayakan Lebaran Topat sekitar seminggu pasca-Idul Fitri.
Puncaknya adalah Perang Topat, dimana ribuan orang berpakaian adat Sasak dan Bali saling melempar ketupat di sekitar Pura Lingsar.
Baca Juga: China Berhasil Ciptakan Taksi Terbang Raksasa, Bisa Muat 10 Orang dan Tempuh Jarak hingga 1.500 Km
Melansir dari jawapos.com, Senin (23/3/2026), tradisi ini menjadi lambang harmoni umat Islam dan Hindu yang hidup berdampingan.
Tradisi-tradisi pasca-Lebaran ini mengingatkan kita bahwa kemenangan bukan hanya di hari pertama Syawal, melainkan berlanjut melalui kebersamaan, pengakuan kesalahan, dan jaga kerukunan.
Di tengah modernisasi, tradisi ini tetap hidup dan menjadi kekayaan budaya bangsa yang patut dilestarikan. (C)
Penulis: Merdiyanto
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS