Hadis Palsu dan Lemah tentang Ramadan yang Marak Beredar Bagian 2

Haidir Muhari

Reporter

Kamis, 15 April 2021  /  1:48 pm

Ilustrasi hadis palsu. Foto: Repro republika.co.id

BAUBAU, TELISIK.ID - Ramadan adalah bulan suci yang sangat dinantikan oleh umat islam.

Pada bulan Ramadan, umat muslim giat melakukan ibadah. Mulai dari amalan wajib hingga amalan sunnah salat, sedekah, mentadaburi Al-Quran, menyambung silaturahim dan amal-amalan lainnya.

Meneruskan tulisan sebelumnya, berikut ini kami rampungkan hadis palsu dan lemah lainnya yang marak beredar di masyarakat sebagaimana dilansir dari Muslim.or.id.

Hadis 7

“Bulan Ramadan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fitri.”

Hadis ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/157). Al Albani mendhaifkan hadis ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43).

Orang yang meyakini bahwa puasa Ramadan tidak diterima jika belum membayar zakat fitri atau zakat fitrah, keyakinan ini keliru, karena hadisnya dhaif. Zakat fitrah bukan merupakan syarat sahnya puasa Ramadan. Namun jika ditinggalkan orang tersebut akan diganjar dosa tersendiri.

Hadis 8

“Rajab adalah bulan Allah, Syaban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh (1/186).

Hadis ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di Nailul Authar (4/334), dan Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (4400). Bahkan oleh banyak ulama hadis ini disebut palsu seperti Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).

Baca Juga: Hadis Palsu dan Lemah tentang Ramadan yang Marak Beredar Bagian 1

Hadis 9

“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bersalawat kepadanya selama bulan Ramadan dan Jibril bersalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1/152)

Hadis ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654).

Orang yang memberikan hidangan buka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadis:

“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi No. 807, ia menyebut hadis ini hasan sahih).

Hadis 10

“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”

Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna.

Hadis ini adalah hadis palsu seperti dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadis ini munkar.

Hadis ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadan. Hal ini untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadis ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama hadis yang beranggapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197).

Hadis 11

“Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah SAW pada hari Id, lalu aku berkata: Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/319), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (3/319), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (3/1246)

Hadis ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalam Dzakiratul Huffadz (4/1950), oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (5666).

Yang benar, ucapan ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’ diucapkan sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat:

Artinya: “Para sahabat Rasulullah SAW biasanya ketika saling berjumpa di hari Id mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)”

Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354). Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini sebagai hadis Nabi SAW.

Baca Juga: Jadi Primadona, Ini 8 Fakta Unik Kurma Ajwa

Hadis 12

“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudu: berbohong, gibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131). Hadis ini termasuk hadis palsu, seperti dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).

Lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadis:

“Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Al Bukhari, No. 6057).

Dalam hal ibadah memang harus berdalil kepada hadis-hadis yang sahih. Hal ini agar ajaran islam yang diajarkan benar-benar seurut-pusaran dengan ajaran Islam yang murni dan jernih.

Semoga Allah SWT melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita, sehingga kita bisa memaksimalkan ibadah-ibadah kita. Semoga kita termasuk dalam hamba-hamba yang konsisten sebagai orang yang bertakwa tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di sepanjang kehidupan kita. Aamiin...

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Haerani Hambali

TOPICS