Limbah Sagu Disulap jadi Edible Coating, Inovasi Biosmart ISTEK Aisyiyah Kendari Raih Pendanaan Kosabangsa 2026

Ahmad Jaelani

Reporter

Sabtu, 05 September 2026  /  12:36 pm

ISTEK Aisyiyah Kendari meraih pendanaan Kosabangsa 2026 melalui inovasi Biosmart berbasis limbah sagu. Foto: Ist.

KENDARI, TELISIK.ID - ISTEK Aisyiyah Kendari meraih pendanaan Kosabangsa 2026 melalui Biosmart, inovasi pengolahan limbah sagu menjadi bahan edible coating hortikultura.

Institut Sains, Teknologi, dan Kesehatan (ISTEK) Aisyiyah Kendari berhasil memperoleh pendanaan Program Kosabangsa Tahun 2026 melalui proposal berjudul “Biosmart (Bioindustri Sagu untuk Masyarakat Tangguh): Teknologi Edible Coating Berbasis Nata De Sago untuk Mendukung Ekonomi Sirkular dan Ketahanan Pangan Lokal”.

Program tersebut akan dilaksanakan di Desa Tetemotaha, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe. Pelaksanaannya melibatkan Pemerintah Desa Tetemotaha, Kelompok Pengolah Sagu atau Kelompok Medai, serta Kelompok Tani Hortikultura atau Kelompok Kateni.

Program Biosmart diketuai Venia Oktafiani, dengan anggota Andika Mayansara dan Syaiful Bachri Mustamin. Kegiatan ini mengembangkan pemanfaatan potensi sagu lokal melalui pengolahan limbah cair menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Kolaborasi ISTEK Aisyiyah Kendari dan UHO

Pelaksanaan Biosmart juga mendapat dukungan tim pendamping dari Universitas Halu Oleo (UHO), yang sekaligus merupakan pemilik paten Nata de Sago dan Edible Coating.

Tim pendamping tersebut terdiri atas Prof. Dr. Nur Arfa Yanti, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Sri Wahyuni, S.Si., M.Si., serta Dr. La Ode Ahmad, M.Si., Ph.D.

Kolaborasi antara ISTEK Aisyiyah Kendari dan UHO tersebut mencakup aspek kepakaran dalam pengembangan teknologi Nata de Sago, teknologi pangan, serta mikrobiologi.

Biosmart mengusung konsep hilirisasi hasil riset berbasis potensi lokal dengan memanfaatkan limbah cair sagu sebagai bahan baku Nata de Sago.

Baca Juga: ISTEK Aisyiyah Kendari: Kampus Islami dan Inklusif Perkuat Peran dalam Menyiapkan SDM Profesional dan Berdaya Saing

Nata de Sago yang dihasilkan kemudian diformulasikan menjadi edible coating untuk diaplikasikan pada komoditas hortikultura. Teknologi tersebut diarahkan untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan hasil hortikultura.

Pada saat yang sama, pemanfaatan limbah cair sagu menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dalam rantai produksi.

Biosmart Tidak Hanya Transfer Teknologi

Program Biosmart tidak hanya mencakup transfer teknologi kepada masyarakat. Kegiatan tersebut juga diarahkan pada penguatan kapasitas produksi dan pengelolaan kelompok mitra.

Penguatan tersebut meliputi penyusunan standar operasional prosedur atau SOP, Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), higiene dan sanitasi, pengemasan, pelabelan, serta pengembangan branding.

Selain itu, program mencakup strategi pemasaran dan pengembangan akses pasar. Materi tersebut menjadi bagian dari pendampingan agar kelompok mitra dapat mengelola hasil inovasi secara lebih terstruktur.

Ketua tim Biosmart, Venia Oktafiani, mengatakan program tersebut dirancang untuk menghubungkan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.

“Biosmart tidak hanya membawa teknologi kepada masyarakat, tetapi juga membangun kapasitas mitra agar mampu menerapkan teknologi secara mandiri dan mengembangkan nilai ekonomi dari potensi lokal yang mereka miliki,” ucapnya, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 5 September 2026.

Integrasikan Pengolahan Sagu dan Hortikultura

Dalam pelaksanaannya, Kelompok Pengolah Sagu atau Kelompok Medai diarahkan untuk menghasilkan Nata de Sago dari limbah cair sagu.

Sementara itu, Kelompok Tani Hortikultura atau Kelompok Kateni akan menerapkan edible coating pada hasil panen komoditas hortikultura.

Integrasi kedua kelompok tersebut menjadi bagian dari konsep Biosmart dalam membangun rantai nilai bioindustri berbasis sagu. Proses tersebut menghubungkan pemanfaatan limbah sagu dengan pengolahan produk serta pemanfaatannya pada hasil hortikultura.

Melalui pola tersebut, program tidak hanya berfokus pada teknologi pengolahan bahan baku, tetapi juga mencakup penerapan hasil inovasi pada sektor pertanian.

Baca Juga: SDN 22 Kendari Optimalkan Pembelajaran Sambil Menanti Rehabilitasi Ruang Kelas

Dorong Pemanfaatan Limbah Sagu

Program Biosmart diarahkan untuk memberikan sejumlah manfaat bagi masyarakat mitra. Salah satunya melalui pemanfaatan limbah cair sagu sebagai bahan baku Nata de Sago.

Selain itu, penerapan edible coating pada hasil hortikultura diarahkan untuk mendukung upaya mengurangi kehilangan pascapanen serta mempertahankan mutu hasil panen.

Program tersebut juga mencakup peningkatan nilai tambah produk, penguatan kapasitas masyarakat, dan pengembangan usaha yang memanfaatkan potensi lokal.

Perolehan pendanaan Program Kosabangsa 2026 menjadi bagian dari kegiatan ISTEK Aisyiyah Kendari dalam mengembangkan hilirisasi hasil riset melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi serta pemberdayaan masyarakat. (D-Adv)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin