Masjid dan Gereja di Kota Kendari Berdampingan, Bukti Nyata Tingginya Toleransi Beragama
Reporter
Minggu, 25 Januari 2026 / 9:22 am
Masjid Da,wah Wanita dan Gereja Pantekosta Bukit Zaitun Kendari berbagi tembok dari tahun 1960. Foto: Aldin/Telisik
KENDARI, TELISIK.ID - Toleransi beragama masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra), khususnya Kota Kendari masih terjalin dengan baik. Terbukti adanya dua rumah ibadah yang berbagi tembok selama 60 tahun terakhir.
Kedua bangunan yang nyaris satu atap itu, yakni Masjid Da,wah Wanita dan Gereja Pantakosta Bukit Zaitun yang terletak di Jalan Ir Soekarno, Kelurahan Dapu-Dapura, Kecamatan Kendari Barat sama-sama dibangun tahun 1960-an dan diperbaharui seiring bertambahnya jemaah melaksanakan ritual keagamaan sehari-hari.
Sekretaris pengurus pembangunan Masjid Da,wah Wanita, Arman mengatakan, sekitar tahun 1997-1998 pada masa bulan ramadan, saat ada kegiatan zakat fitrah, gereja juga menyumbang mulai dari beras, mie instan bahkan pakaian bekas.
"Jadi nilai toleran sudah berkembang dari dulu. Kami tidak pernah saling mengusik apalagi sampai konflik," kata Arman, Sabtu (24/1/2024).
Baca Juga: Tegar Anak Nelayan Penderita Hidrosefalus di Konawe Terima Bantuan Perahu dari Sentra Meohai Kendari
Ia mengatakan, pernah ada kegiatan ibadah di gereja karena hanya dibatasi satu tembok maka alat musiknya kedengaran, sehingga pihak masjid memutuskan menemui dan mereka juga mengerti, begitupun dengan masjid yang mematikan radio ketika selesai salat lima waktu agar pihak gereja tidak terganggu saat ibadah.
"Kami tidak saling mengganggu dalam beribadah dan alhamdulillah sampai saat ini kami saling menjaga dan membangun komunikasi yang baik sama pengurus gereja," tutur arman.
Baca Juga: Puluhan PPPK Nakes di Soropia Kendari Tak Bisa Ambil Gaji, BPR Bahteramas Berkilah Kendala Jaringan
Sementara itu, pimpinan jemaat Gereja Pantakosta Bukit Zaitun, Pdt. Ir. David Agus Setiawan, M.A., M.Th mengatakan, selama 65 tahun gereja berdiri dan berdampingan dengan masjid tidak pernah sama sekali terganggu dengan kegiatan ibadah di masjid.
"Di awal-awal berdirinya masjid mereka belum punya pompa air, jadi kami pengurus gereja berinisiatif berbagi air dengan menarik selang ke masjid untuk dipakai berwudhu," kata David.
Ia berharap, nilai solidaritas beragama itu terpelihara dengan baik, bukan hanya di Kota Kendari tetapi seluruh Indonesia. (B)
Penulis: Aldin
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS