Menggali Nilai Sara Pataanguna Masyarakat Buton dalam Peringatan Nuzulul Quran

Elfinasari, telisik indonesia
Rabu, 11 Maret 2026
0 dilihat
Menggali Nilai Sara Pataanguna Masyarakat Buton dalam Peringatan Nuzulul Quran
Sekda Kota Baubau, La Ode Darus Salam pada Peringatan Nuzulul Quran 1447 H/2026 M di Masjid Agung Jamiathus Sholihin. Foto: Ist.

" Acara ini menekankan pentingnya Al-Quran sebagai pedoman hidup dan sarana memperkuat ukhuwah "

BAUBAU, TELISIK.ID - Malam peringatan Nuzulul Quran 1447 H / 2026 M di Masjid Agung Jamiathus Sholihin Kota Baubau berlangsung khidmat. Acara ini menekankan pentingnya Al-Quran sebagai pedoman hidup dan sarana memperkuat ukhuwah.

Nilai-nilai Al-Quran pun selaras dengan Sara Pataanguna, falsafah Buton yang mengajarkan rukun, saling menghormati, dan keharmonisan sosial.

Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darus Salam menjelaskan, peringatan Nuzulul Quran bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai Al-Quran sebagai peta jalan hidup. Ia menekankan bahwa persaudaraan atau ukhuwah merupakan modal sosial terbesar bagi masyarakat Kota Baubau.

“Al-Quran mengajarkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah, namun persatuan adalah kewajiban. Di tengah pembangunan kota kita, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wataniyah, dan ukhuwah basyariyah harus tetap menjadi fondasi utama,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).

Sementara itu, Wali Kota Baubau, Yusran Fahim, juga mengaitkan pesan-pesan universal Al-Quran dengan kearifan lokal masyarakat Buton. Ia menyampaikan, nilai-nilai dalam Al-Quran sangat sejalan dengan falsafah Sara Pataanguna yang selama ini menjadi pedoman hidup masyarakat Baubau dalam menjaga keharmonisan sosial.

Baca Juga: Viral di Medsos, Diduga Tersangkut Biji Rambutan Renggut Nyawa Anak 11 Tahun di Buton Tengah

Oleh karena itu, jika masyarakat berpegang teguh pada tuntunan Ilahi serta nilai budaya tersebut, maka tidak akan ada ruang bagi fitnah maupun perpecahan.

Budayawan Buton, Imran Kudus menjelaskan, Sara Pataanguna merupakan nilai adat masyarakat Buton di Sulawesi Tenggara yang mengajarkan pentingnya hidup rukun, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

"Secara sederhana, Sara Pataanguna terdiri dari empat prinsip utama yang menjadi pedoman hidup bersama," ungkapnya.

Empat nilai utama Sara Pataanguna yang diterapkan masyarakat Buton:

1. Pomaa masiaka  (saling menyayangi), mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan tolong-menolong antarwarga, selaras dengan prinsip Al-Quran tentang kebaikan kepada sesama.

2. Poangka angkataka  (saling menghormati/menghargai), menekankan penghormatan terhadap martabat, hak, dan jasa individu. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, hal ini diwujudkan melalui penghargaan atau perlakuan pantas, termasuk memberikan jabatan atau hadiah.

3. Popia piara (saling memelihara)

mengajarkan menjaga, merawat, dan memperhatikan orang lain, termasuk menjaga tutur kata agar tidak menyinggung perasaan.

Baca Juga: Libur Lebaran 2026, Layanan BPJS Kesehatan di Baubau Tetap Buka

4. Pomae maeka (saling segan atau menghormati), yaitu mendorong sikap rendah hati, sopan, dan takut untuk merugikan orang lain, sekaligus menumbuhkan kesadaran vertikal kepada Allah SWT.

Ia juga mengatakan, salah satu nilai dalam pomae maeka adalah sikap saling menghormati, sekaligus menumbuhkan rasa takut tertinggi kepada Allah SWT sebagai bentuk ketakwaan.

Nilai ini mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan (dimensi vertikal) sekaligus hubungan antarsesama manusia (dimensi horizontal), sehingga memiliki keterkaitan yang erat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan Nuzulul Quran. (A)

Penulis: Elfinasari

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga