Phryne, PSK Yunani Kuno Lolos dari Hukuman Mati Usai Tubuhnya Diperlihatkan di Ruang Sidang

Ahmad Jaelani

Reporter

Minggu, 05 Juli 2026  /  6:27 pm

Ilustrasi, Phryne dikenang sebagai pelacur Yunani kuno yang lolos dari hukuman mati setelah persidangan kontroversial berlangsung. Foto: Repro BBC

JAKARTA, TELISIK.ID - Phryne dikenang dalam sejarah Yunani kuno setelah terbebas dari hukuman mati melalui peristiwa persidangan yang melibatkan pembelaannya di hadapan para hakim.

Nama Phryne menjadi salah satu tokoh perempuan paling dikenal dalam sejarah Yunani kuno. Perempuan yang berprofesi sebagai pelacur itu dikenang bukan hanya karena kecantikan dan kekayaannya, tetapi juga karena kisah persidangan yang membuatnya lolos dari hukuman mati.  

Hingga kini, peristiwa tersebut masih menjadi pembahasan dalam berbagai literatur sejarah dan kebudayaan Yunani kuno.

Phryne memiliki nama asli Mnesarete. Namun, masyarakat Athena lebih mengenalnya dengan nama Phryne yang berarti "kodok", merujuk pada warna kulitnya yang kekuningan.  

Ia merupakan putri Epicles dari Thespiae, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Athena. Sejumlah sejarawan memperkirakan ia lahir sekitar tahun 371 Sebelum Masehi, tidak lama sebelum Thespiae dihancurkan setelah Pertempuran Leuctra.

Kecantikan Phryne membuat namanya dikenal luas di Athena. Parasnya bahkan menjadi inspirasi sejumlah seniman besar pada masanya. Salah satu pematung ternama, Praxiteles, menjadikannya sebagai model karya patung yang kemudian terkenal di dunia Yunani kuno.

Patung tersebut semula dipesan oleh kota Cos. Namun, pesanan itu ditolak karena menggambarkan sosok perempuan dalam keadaan telanjang.

Baca Juga: Cerita PSK Cantik Rela Dibayar Murah, Ingin Pulang ke Kampung Halaman Jumpa Ibu

Karya tersebut kemudian dibeli oleh kota Cnidus dan menjadi salah satu daya tarik yang banyak didatangi pengunjung. Dalam sejumlah catatan sejarah, patung itu disebut turut membantu meningkatkan pemasukan kota hingga mampu melunasi utangnya.

Kecantikan Phryne juga mendapat perhatian para sarjana Yunani kuno. Salah satu catatan paling lengkap mengenai kehidupannya ditulis Athenaeus dalam karya The Deipnosophists. Dalam tulisannya, Athenaeus menggambarkan bahwa Phryne dikenal menjaga tubuhnya dari pandangan umum.

“Phryne adalah wanita yang sangat cantik, bahkan di bagian-bagian tubuhnya yang tidak terlihat secara umum: karena itu tidak mudah untuk melihatnya telanjang; karena dia dulu memakai tunik yang menutupi seluruh tubuhnya, dan dia tidak pernah menggunakan pemandian umum. Tetapi pada pertemuan khusyuk festival Eleusinian, dan pada pesta Poseidonia, dia mengesampingkan pakaiannya di hadapan semua orang Yunani yang berkumpul, dan setelah melepaskan rambutnya," tulis Athenaeus dalam bukunya, seperti dikutip dari Nationalgeorafic Indonesia, Minggu (5/7/2026).

Selain terkenal karena kecantikannya, Athenaeus juga mencatat bahwa Phryne merupakan perempuan mandiri yang sangat kaya pada zamannya.  

Kekayaannya membuat ia mampu menawarkan pembiayaan pembangunan kembali tembok kota Thebes yang dihancurkan oleh Alexander Agung pada tahun 336 Sebelum Masehi.

Sebagai syarat atas bantuannya, Phryne meminta agar sebuah kalimat diukir pada tembok tersebut.  

Kalimat itu berbunyi: "Dihancurkan oleh Alexander, dipulihkan oleh Phryne si pelacur."

Permintaan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa seorang perempuan juga mampu membangun kembali sesuatu yang telah dihancurkan seorang penguasa besar. Namun, para pemimpin Thebes menolak tawaran tersebut sehingga pembangunan tembok tidak pernah dilakukan menggunakan dana milik Phryne.

Meski dikenal kaya dan memiliki pengaruh, peristiwa yang paling dikenang dari kehidupan Phryne adalah persidangan yang pernah dihadapinya. Menurut Athenaeus, ia didakwa atas pelanggaran berat dan dibela oleh orator terkenal, Hypereides, yang juga disebut sebagai salah satu kekasihnya.

Athenaeus tidak menjelaskan secara rinci bentuk tuduhan yang diarahkan kepada Phryne. Namun, sejumlah sumber sejarah lain menyebutkan bahwa ia didakwa karena dianggap mencemarkan Misteri Eleusinian, yaitu ritual keagamaan yang sangat dihormati dalam tradisi Yunani kuno.

Baca Juga: Cerita PSK Cantik Jadikan Remaja Pelampiasan, Trauma Efek TikTok

Kisah yang paling banyak dikenal menyebutkan bahwa ketika pembelaan secara lisan dianggap tidak cukup meyakinkan, Hypereides merobek pakaian Phryne di hadapan para hakim sehingga tubuhnya terlihat di ruang sidang.  

Menurut catatan Athenaeus, tindakan tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa tubuh yang dianggap memiliki kesempurnaan luar biasa diyakini merupakan anugerah para dewa.

Dalam kisah itu, para hakim disebut akhirnya mengurungkan niat menjatuhkan hukuman mati. Mereka membebaskan Phryne dari seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah peradilan Yunani kuno.

Kisah persidangan Phryne terus hidup selama berabad-abad dan menjadi inspirasi berbagai karya seni. Salah satunya adalah lukisan Phryne Before the Areopagus karya Jean-Léon Gérôme yang diselesaikan pada tahun 1861.  

Lukisan tersebut menggambarkan momen ketika tubuh Phryne diperlihatkan di hadapan para hakim sebagai bagian dari pembelaan di ruang sidang.

Sebagian kalangan menyebut peristiwa itu sebagai salah satu pertunjukan telanjang paling awal yang tercatat dalam sejarah manusia. Meski demikian, sejumlah sejarawan masih memperdebatkan apakah kisah tersebut benar-benar terjadi seperti yang dituliskan Athenaeus atau telah mengalami penambahan unsur dramatik dalam proses penyampaiannya dari generasi ke generasi.  

Hingga kini, Phryne tetap menjadi salah satu tokoh perempuan paling dikenal dalam sejarah Yunani kuno karena perpaduan kisah kecantikan, kekayaan, dan persidangan yang mengantarkan namanya bertahan dalam catatan sejarah. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS