Produksi Minyak Kelapa Sendiri, Lansia Ini Tak Terpengaruh Minyak Goreng Langka dan Mahal

Aris Syam

Reporter

Minggu, 06 Maret 2022  /  4:11 pm

Sutra membuat minyak kelapa sendiri dari bahan santan kelapa. Foto: Aris Syam/Telisik

KONAWE, TELISIK.ID - Seorang di Konawe, Sultra  (71), tak terpengaruh dengan kelangkaan dan mahalnya minyak goreng. Sebab selama ini ia membuat sendiri minyak goreng dari bahan santan kelapa.

Rutinitas produksi minyak kelapa itu telah dilakoni warga Kelurahan Ambekairi, Kabupaten Konawe ini sejak beberapa tahun terakhir, dengan memanfaatkan pohon kelapa yang ada di sekitaran rumahnya. Sehingga memudahkannya memproduksi minyak kelapa, karena tak harus membeli kelapa.

Keahliannya membuat minyak kelapa diperoleh dari orang tuanya. Tak heran bila ia tak pernah bergantung dengan minyak goreng yang dijual di luar sana.

"Sudah puluhan tahun saya buat minyak kelapa, turunan dari orang tua dulu, sekalian irit-irit biaya juga tidak perlu beli minyak goreng di luar. Apalagi sudah mahal sekali harganya sekarang," kata Sutra pada Telisik.id, Minggu (6/3/2022).

Janda 3 anak itu menjelaskan, untuk mendapatkan minyak kelapa dengan ukuran satu botol plastik kecap ABC, ia membutuhkan buah kelapa sekitar 10 buah ukuran besar atau 13 buah kelapa ukuran kecil.

Sementara itu, proses pembuatannya, Sutra menuturkan, pertama buah kelapa didipisahkan dengan tempurungnya, lalu diparut. Dari hasil parutan kelapa kemudian diperas untuk mengambil santannya, dan santannya ini yang dimasak untuk menghasilkan minyak kelapa.

Selanjutnya, untuk mendapatkan minyak kelapa murni, santan yang telah disaring perlu didiamkan selama satu malam, kemudian dimasak supaya sari minyak kelapa murni mudah dipisahkan.

Baca Juga: Stok Berkurang, Minyak Goreng di Reok Manggarai NTT Dijual di Atas HET

Setelah proses itu, hasil rendaman santan diambil bagian atasnya untuk diisi dalam sebuah wajan yang sudah panas. Proses pemanasan hingga mendidih selanjutnya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

"Kebetulan ada mesin parut kelapa di rumah, jadi tidak mesti parut di luar. Kalau untuk pemerasan santannya, ada juga alatnya dari kayu kebetulan anak saya yang buatkan, karena kalau pake tangan lama dan menguras tenaga," tambahnya.

Meskipun di usia yang yang tak lagi muda, Sutra tetap melakoni aktivitas tersebut sambil mengajarkan kepada anak-anaknya cara memproduksi minyak kelapa alami. Sehingga kelak produksi minyak kelapa dapat diwariskan kepada anaknya ketika ia sudah wafat.

"Kita upayakan saja ini tradisi bisa berlanjut sama mereka dan anak-anak mereka juga nanti," harapnya.

Sementara itu, Sahril anak tertua Sutra mengatakan, ibunya sudah membuat minyak kelapa sebelum ia lahir sampai sekarang. Bahkan waktu dulu ketika ia sekolah, minyak kelapa dijadikan sebagai minyak rambut.

"Dulu ibu biasa kasih minyak kelapa di rambut, katanya biar rambut bagus dan tebal," kata Sahril.

Sahril mengakui, terkadang dirinya merasa kasihan melihat ibunya bekerja membuat minyak kelapa. Terlebih lagi di usianya yang tak lagi muda. Sehingga ia selalu menyempatkan waktu membantu ibunya membuat minyak kelapa.

Baca Juga: Keunikan Pasar Sentral Ranomeeto, Aneka Makanan Tradisional Dijajakan

"Biasa saya yang kupas kelapanya, adik-adikku juga biasa bantu," jelasnya.

Anak Sutra lainnya, Andi mengatakan, minyak kelapa yang dibuat ibunya hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tidak diperjualbelikan, sehingga tidak dibuat dalam jumlah banyak.

"Ibu buat minyak untuk dipakai sehari-hari saja, tidak untuk dijual. Kalau mau dijual, otomatis perlu kelapa dan tenaga banyak, sementara ibu tidak fokus disitu, kalau habis minyak baru dia buat lagi," tandasnya. (A)

Reporter: Aris Syam

Editor: Haerani Hambali