Unik: Pria Ini Bisa Bertahan Hidup 171 Hari Usai Transplantasi Hati Babi

Merdiyanto

Content Creator

Senin, 02 Februari 2026  /  8:25 am

Seorang pria berhasil bertahan hidup 171 hari setelah melakukan transplantasi hati babi. Foto: Repro NDTV.

BEIJING, TELISIK.ID - Seorang pria sakit parah mampu bertahan hidup hingga 171 hari berkat hati babi hasil rekayasa genetika. Para ahli menyebut ini sebagai periode bertahan hidup paling lama yang pernah didokumentasikan untuk kasus transplantasi serupa.

Mengingat tidak adanya pengobatan standar yang efektif untuk sirosis dan hepatitis B parah yang dideritanya, seorang pria 71 tahun asal Provinsi Anhui akhirnya menerima transplantasi hati babi rekayasa genetika sebagai upaya terakhir.

Hati babi tersebut awalnya bekerja secara fungsional dalam tubuh pasien, namun harus diangkat pada hari ke-38 karena komplikasi xTMA.

Kondisi ini diidentifikasi oleh tim dokter sebagai bentuk penolakan tubuh atau komplikasi spesifik dalam prosedur xenotransplantasi.

Meski transplantasi telah diangkat, bantuan medis membantu pria tersebut bertahan hingga hari ke-171, sebelum pendarahan internal akhirnya merenggut nyawanya, dilansir dari Sindonews, Senin (2/2/2026).

Ketua tim medis, Dr. Beicheng Sun, mengungkapkan bahwa kelangsungan hidup pasien yang melampaui ekspektasi ini menunjukkan sinyal positif mengenai kecocokan organ, meskipun prosedur tersebut masih dihantui komplikasi teknis yang kompleks.

Baca Juga: Unik: Manfaatkan Jidat Jadi Ruang Iklan, Pria Ini Raup Cuan Rp 9,4 Juta dari Kepala Botaknya

"Semua orang selalu mengatakan hati terlalu rumit untuk ditransplantasikan, dibandingkan dengan jantung atau ginjal, tetapi setelah ini, di masa depan, saya pikir orang-orang akan berpikir berbeda," kata Sun.

Meskipun dipandang sebagai jawaban atas kekurangan donor organ, xenotransplantasi atau transplantasi organ antar-spesies masih menghadapi kendala besar dalam pembuktian secara ilmiah.

Berbeda dengan jantung atau ginjal babi yang telah lebih dulu diujicobakan, transplantasi hati menghadapi kendala lebih besar.

Tingginya tingkat kesulitan ini dipicu oleh beban kerja hati yang sangat kompleks dalam metabolisme dan sistem detoksifikasi tubuh.

"Saya pikir hati itu baik jika kita bisa mendapatkan cukup gen manusia pada babi," imbuh Sun.

"Eksperimen ini menunjukkan alasan untuk optimisme yang hati-hati sekaligus pengingat betapa jauhnya bidang ini masih harus berkembang," kata Dr Heiner Wedemeyer, seorang profesor Gastroenterologi dan Hepatologi di Fakultas Kedokteran Hannover di Jerman.

"Bagi saya, sebagai ahli hepatologi transplantasi, ini benar-benar menawarkan pandangan dan ide yang benar-benar baru," tambahnya, dikutip dari CNN, Senin (2/2/2026).

Baca Juga: Unik: Pesan HP Nokia Tahun 2010, Barang Tiba Setelah 16 Tahun di Tengah Perang Libya

Berdasarkan ulasan Reading Chronicle, babi adalah hewan donor yang paling menjanjikan secara ukuran dan kecocokan biologis. Ditambah lagi, studi terbaru menunjukkan bahwa penyuntingan gen dan metode imunosupresif modern mampu meminimalisir risiko penolakan organ.

David Bennett, pria berusia 57 tahun yang menjadi pionir penerima jantung babi modifikasi genetik, meninggal dunia dua bulan setelah operasinya di Amerika Serikat pada 2022. Prosedur tersebut dilakukan oleh tim ahli dari University of Maryland Medical Center.

Pria berusia 62 tahun bernama Richard Slayman menjadi pasien pertama di dunia yang menerima ginjal babi rekayasa genetika. Meski prosedur di Rumah Sakit Umum Massachusetts itu dianggap sukses, Slayman meninggal dunia dua bulan kemudian. (C)

Penulis: Merdiyanto

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS