Kalau para wartawan senior (WS) terdahulu kerap disebut menyandang profesi wartawan tiga zaman, kini muncul wartawan senior yang coba disatukan oleh SWSI. Tetapi, nilai-nilai yang menjadi muatan kejujuran tak pernah berubah. Jujur dulu, kini pun tetap jujur sebagai satu nilai yang tak lekang ditelan zaman. Forever!

Baca Juga: JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma

Tak ada pilihan lain, berlatar telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa dan negara dipadu dengan kadar intelektual yang dimiliki, WS harus mengasah dan terus menggali keilmuan yang dipunyai dari pengalaman profesi wartawan. Ia tak boleh statis, meski usia sudah senior atau sangat senior. Journalists are never sleep…never die!

Teladan mereka tak hanya keberanian, melainkan mampu mencurahkan pengalamannya ke dalam pemikiran antara lain lewat tulisan di media dan buku. Pada generasi terdahulu dapat kita teladani, misalnya, pada alm. Mochtar Lubis dan alm H. Rosihan Anwar yang kalimat-kalimatnya sulit dipungkiri, kecuali penguasa di masanya berkelit dengan sejumlah alasan seraya menggulir taktik pembungkaman.

Semoga saja, penguasa di masa kini tak bertindak serupa, dengan berpura-pura mengingat “di alam serba terbuka dewasa ini, tak mungkin lagi membungkaman.” Namun, meski sejarah memang tak pernah bisa berulang, ia kerap modifikasi.